Berita  

Bupati Bojonegoro & Kades Ngradin lepas burung hantu, bentuk peduli Ketahanan pangan

GridArt 20250714

MBC INDONESIA

merdekabangsa.net – bojonegoro.

Bupati Bojonegoro, H. Setyo Wahono, telah mengambil langkah proaktif dalam mendukung upaya Pemerintah di Desa Ngradin untuk mengatasi masalah hama tikus, yang selama ini menjadi ancaman bagi sektor pertanian. Kegiatan pada hari sabtu, (12/7/2025) Kemarin.

Inisiatif dukungan secara langsung ini, tidak hanya mencerminkan kepedulian Bupati terhadap kondisi pertanian di daerahnya, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui metode yang ramah lingkungan.

Salah satu metode yang dipilih adalah pelepasan burung hantu, spesies yang dikenal efektif dalam mengendalikan populasi tikus.

Burung hantu yang dilepaskan, yakni Serak Jawa (Tyto alba), adalah spesies burung hantu berukuran besar yang telah lama dikenal memiliki kemampuan untuk mengusir hama tikus.

Adapun jumlah pelepasan burung hantu dalam kegiatan disampaikan kepala Desa ngradin Ngatemin,

“Sebanyak 28 pasang atau keseluruhan sebanyak 56 burung. Jumlah tersebut bersumber dari pemdes ngradin sebanyak 24 pasang (48 burung) ditambah hasil swadaya Kelompok tani sebanyak 4 pasang (8 burung)”. Kata Kepala Desa Ngradin.

Selain itu, melengkapi kelangsungan hidup untuk memenuhi kebutuhan dalam Habitat burung hantu telah disiapkan Rubuha (rumah burung hantu) yang bersumber dari pihak pemdes ngradin sebanyak 25 kotak Rubuha dan swadaya masyarakat sebanyak 13 kotak Rubuha. Pungkasnya.

Langkah ini diambil dengan harapan bahwa kehadiran koloni burung hantu di area persawahan dapat membantu petani dalam menekan populasi hama tikus secara alami.

Selain itu, dengan pembangunan rumah burung hantu (rubuha), diharapkan dapat memberikan tempat yang layak bagi burung hantu untuk bersarang dan berkembang biak, sehingga dapat meningkatkan populasi mereka di daerah tersebut.

Pelepasan burung hantu ini dapat dipandang sebagai salah satu bentuk inovasi dalam pertanian berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro.

Penggunaan predator alami untuk mengendalikan hama justru lebih menguntungkan dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimia, yang sering kali memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, apalagi menggunakan jebakan listrik yang tentunya tindakan ini dapat mengancam keselamatan nyawa Manusia.

Dengan mengandalkan burung hantu sebagai pengendali hama secara alami, petani tidak hanya mengurangi risiko kerusakan panen, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem di sekitarnya.

Dari perspektif ketahanan pangan, pentingnya menjaga produktivitas pertanian sangatlah vital, terutama di daerah yang bergantung pada hasil pertanian sebagai sumber pangan utama.

Dengan mengatasi masalah hama tikus secara alami, petani di Desa Ngradin memiliki peluang yang lebih baik untuk meningkatkan hasil pertanian mereka.

Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kemandirian pangan dan menjaga ketersediaan pangan yang berkualitas bagi masyarakat.

Bupati Bojonegoro, H. Setyo Wahono dan Kepala Desa Ngradin, Ngatemin, dalam melakukan pelepasan burung hantu juga mencerminkan kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat setempat.

Keterlibatan warga dalam proses ini sangat penting karena mereka adalah pihak yang paling merasakan manfaat dari keberadaan burung hantu di lingkungan pertanian.

Melalui pendidikan dan sosialisasi mengenai manfaat burung hantu sebagai pengendali hama alami, berdampak membuka kesadaran masyarakat dan dapat ditingkatkan dalam partisipasi aktif untuk menjaga lingkungan.

Secara keseluruhan, langkah dukungan yang diambil oleh Bupati Bojonegoro bersama Pemerintah Desa Ngradin dalam melepas burung hantu sebagai upaya mengatasi hama tikus merupakan contoh yang baik dalam memperkuat ketahanan pangan dengan pendekatan yang ramah lingkungan.

Diharapkan, inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menghadapi permasalahan yang sama, serta membuka jalan bagi metode pengendalian hama yang lebih inovatif dan berkelanjutan di masa depan. (Ags/red)

Referensi:

Bupati Bojonegoro, H Setyo Wahono, dan Pemerintah Desa Ngradin, Ngatemin.

Observasi tentang metode pengendalian hama tikus menggunakan burung hantu Serak Jawa (Tyto alba).

Analisis tentang pentingnya ketahanan pangan dan metode ramah lingkungan dalam pertanian.

Exit mobile version