Berita  

Jejak Prasasti Adan-adan, Saksi Bisu Kejayaan di Tanah Bojonegoro

admin
GridArt 20251010
banner 120x600
banner 468x60

Jejak Prasasti Adan-adan, Saksi Bisu Kejayaan di Tanah Bojonegoro

banner 325x300

(The Adan-adan Inscription: A Silent Witness of Glory in the Land of Bojonegoro)

MBC INDONESIA.

Bojonegoro, Jawa Timur — Di tengah bentangan sawah dan lembah Bengawan Solo, tersimpan kisah kuno tentang kejayaan masa silam.

Prasasti Adan-adan, yang ditemukan di Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, menjadi bukti nyata peradaban maju di tanah Jawa bagian barat.

In the midst of rice fields and the valley of the Bengawan Solo River lies an ancient story of past glory.

The Adan-adan Inscription, discovered in Mayangrejo Village, Kalitidu District, Bojonegoro Regency, stands as concrete evidence of an advanced civilization in western Java.

Prasasti ini bertarikh 1223 Śaka (1301 Masehi) dan ditulis di atas 17 lempeng tembaga beraksara Jawa Kuna dan Sanskerta.

Dokumen ini berisi keputusan kerajaan yang menetapkan suatu wilayah menjadi tanah sima, yakni daerah yang dibebaskan dari pajak untuk kepentingan keagamaan dan kesejahteraan masyarakat.

Dated 1223 Śaka (1301 AD), this inscription is engraved on 17 copper plates in Old Javanese and Sanskrit. It records a royal decree declaring a region as sima land—a tax-free territory dedicated to religious institutions and community welfare.

Beberapa nama desa kuno disebut di dalam prasasti ini: Tinawun, Kawengan, Jajar, Patambangan, Tambar, Padasan, Punten, Rakameng, Kubwan Agede, Paran, Panjer, dan Sanda.

Menariknya, banyak dari nama itu masih dikenal hingga kini di wilayah Bojonegoro modern.

Several ancient villages are mentioned in the inscription—Tinawun, Kawengan, Jajar, Patambangan, Tambar, Padasan, Punten, Rakameng, Kubwan Agede, Paran, Panjer, and Sanda—many of which still exist in modern Bojonegoro.

Kini, Prasasti Adan-adan disimpan di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, dan menjadi koleksi penting cagar budaya Jawa Timur.

Para peneliti meyakini bahwa prasasti ini adalah bukti kuat tentang adanya pemerintahan lokal yang mapan di sepanjang jalur Bengawan Solo.

Today, the Adan-adan Inscription is preserved at the Mpu Tantular Museum in Sidoarjo, forming part of East Java’s valuable cultural heritage collection.

Researchers believe it serves as strong evidence of an organized local government along the Bengawan Solo cultural corridor.

Bupati Bojonegoro H. Setyo wahono bersama Tim napak tilas MBC Indonesia kini tengah menelusuri jejak peninggalan serupa di kawasan Tambakrejo dan Kalitidu, yang diyakini menyimpan situs-situs arkeologi dari masa Hindu–Buddha hingga awal Mataram Islam.

The Regent of Bojonegoro, H. Setyo Wahono, together with the MBC Indonesia Trail Team, are currently tracing similar heritage traces in the Tambakrejo and Kalitidu areas, which are believed to contain archaeological sites from the Hindu-Buddhist period to the beginning of Islamic Mataram.

“Prasasti Adan-adan adalah pintu menuju pemahaman lebih dalam tentang Bojonegoro sebagai bagian dari jalur budaya Bengawan Solo,” ujar seorang peneliti budaya lokal.

“The Adan-adan Inscription is a gateway to a deeper understanding of Bojonegoro as part of the Bengawan Solo cultural route,” said a local cultural researcher.

Dengan semangat pelestarian sejarah, masyarakat Bojonegoro diharapkan terus menjaga warisan ini sebagai cermin jati diri bangsa dan kebanggaan daerah.

With a spirit of heritage preservation, the people of Bojonegoro are encouraged to protect this legacy as a mirror of national identity and regional pride. (Ags/red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *